Djemi Radji – Direktur Association for Religious and Culture Studies
POJOKPLAN.ID - Tradisi khataman kitab dan pembacaan sholawat telah menjadi bagian penting dalam kehidupan pesantren, khususnya dalam membentuk ketahanan spiritual dan budaya ilmu di tengah masyarakat. KH. Abdullah Aniq Nawawi, pengasuh Pondok Pesantren Salafiyah Syafi'iyah Banuroja, Gorontalo, menghidupkan kembali dua tradisi besar dalam khazanah Islam klasik, yaitu khataman Shohih Bukhori dan pembacaan Sholawat Nariyah. Tulisan ini mengkaji pandangan beliau terhadap dua amalan tersebut serta relevansinya dalam menjaga kesinambungan tradisi Islam Nusantara.
Pesantren sebagai institusi pendidikan tradisional memiliki khazanah ritual dan spiritual yang kuat dalam merawat warisan Islam klasik. Salah satu tradisi penting yang hidup dalam budaya pesantren adalah khataman kitab—terutama kitab-kitab induk dalam hadits dan fiqih—dan pembacaan sholawat sebagai bentuk pendekatan batiniah kepada Rasulullah.
KH. Abdullah Aniq Nawawi (Gus Aniq), seorang ulama muda yang kini memimpin Pondok Pesantren Salafiyah Syafi'iyah Banuroja, Kecamatan Randangan, Kabupaten Pohuwato, mempopulerkan kembali pentingnya menghidupkan khataman kitab Shohih Bukhori dan pembacaan Sholawat Nariyah sebagai bagian dari tradisi Islam yang sarat dengan nilai keberkahan dan keilmuan.
Khataman Shohih Bukhori: Warisan Ilmu dan Keberkahan
Kitab Shohih Bukhori karya Imam al-Bukhari merupakan salah satu koleksi hadits paling otoritatif dan mendalam dalam Islam. Proses penyusunan kitab ini penuh dengan riyadhoh (latihan) dan kehati-hatian, sebagaimana diceritakan dalam banyak riwayat. Oleh karena itu, kitab ini tidak hanya dihargai karena validitas isnad-nya, tetapi juga karena spiritualitas penyusunnya.
Menurut Ketua PCINU Maroko (2016-2018) ini, Shohih Bukhori tidak hanya penting sebagai rujukan keilmuan, tetapi juga memiliki nilai barokah (keberkahan) yang besar ketika dikhatamkan secara kolektif ataupun sendiri-sendiri. Hal ini didasarkan pada keterangan dari kitab Mukhtashor Ibn Abi Jamrah yang menyebut bahwa siapa saja yang mengkhatamkan Shohih Bukhori dalam kondisi tertentu akan mendapatkan jalan keluar dan keselamatan.
“Di dalam Mukhtashor Abi Jamrah disebutkan bahwa orang yang mengkhatamkan Shohih Bukhori akan diangkat kesulitannya. Bahkan tidak pernah ditemukan orang yang membawa kitab itu mengalami kecelakaan,” ujar Gus Aniq.
Tradisi ini juga dilihat beliau sebagai bentuk penghormatan terhadap sanad dan keilmuan Islam klasik, serta sebagai media menyambung hati dan sanad ruhaniyah dengan para ulama terdahulu.
Sholawat Nariyah: Doa, Harapan, dan Energi Kolektif Umat
Pembacaan Sholawat Nariyah merupakan amaliyah populer di lingkungan pesantren dan warga Nahdliyyin. Sholawat ini dikenal luas sebagai salah satu bentuk permohonan kepada Allah melalui wasilah Rasulullah, agar segala hajat dipenuhi dan segala kesulitan dimudahkan.
KH. Abdullah Aniq Nawawi yang juga mantan Rais Syuriyah PCINU Maroko 2018-2020 ini menyatakan bahwa pembacaan Sholawat Nariyah memiliki efek psikologis dan spiritual yang mendalam, khususnya dalam menciptakan ketenangan, kekuatan batin, dan rasa optimisme di tengah umat.
“Kita mendorong agar masyarakat, khususnya lingkungan pesantren dan majelis taklim, menjadikan Sholawat Nariyah sebagai wirid bersama. Karena sholawat ini mengandung doa yang sangat luas cakupannya,” ungkap beliau.
Warisan KH. Abdul Ghofur Nawawi: Ikhtiar Spiritual Klasik
Gus Aniq juga mengisahkan wejangan almarhum Bapaknya, KH. Abdul Ghofur Nawawi, pengasuh Pondok Salafiyah Syafi’iyah Banuroja, terkait amalan-amalan ringan yang penuh makna. Di antaranya adalah membaca sholawat Thibbil Qulub dan bait li khomsatun, serta mengitari rumah dengan mengumandangkan adzan dan iqamah di setiap sudut, kemudian diakhiri iqamah di tengah rumah.
“Beliau (KH Abdul Ghofur) menyarankan agar setiap rumah memiliki penjagaan spiritual, dan ruang domestik bisa menjadi pusat kekuatan batin,” kenang Gus Aniq.
Menariknya, almarhum juga pernah mengatakan bahwa mengkhatamkan Nadzom Alfiyyah Ibnu Malik—kitab gramatika Arab berisi 1.000 bait—memiliki nilai keberkahan serupa dengan Shohih Bukhori. Hal ini mencerminkan betapa dalamnya pemahaman beliau terhadap hubungan antara ilmu, amal, dan keselamatan hidup.
Gagasan KH. Abdullah Aniq Nawawi untuk menghidupkan kembali khataman Shohih Bukhori dan pembacaan Sholawat Nariyah merupakan upaya penting dalam merevitalisasi warisan tradisi Islam Nusantara. Tradisi ini tidak hanya menjadi ibadah ritual, tetapi juga bentuk dakwah kultural dan spiritual yang menyentuh kehidupan masyarakat luas.
Beliau berharap agar Pesantren Salafiyah Syafi’iyah dan warga Nahdliyyin dapat menjadi pelopor dalam menyebarluaskan tradisi khataman Shohih Bukhori ke seluruh pelosok negeri, sebagai bagian dari khidmat kepada ilmu, ulama, dan umat.

