Pohuwato – Kabupaten Pohuwato, Provinsi Gorontalo, memiliki kekayaan alam luar biasa yang terwujud dalam ikon satwanya, burung maleo. Burung unik ini bukan hanya kebanggaan masyarakat setempat, tetapi juga simbol ketangguhan alam yang menjadi identitas khas daerah berjuluk “Bumi Panua.”
Dilansir dari lamar resmi BKSDA Sulawesi Tengah, bahwa Maleo, atau yang dikenal warga Gorontalo sebagai burung panua, memiliki keunikan yang sulit ditemukan pada satwa lainnya. Salah satu daya tariknya adalah telur berukuran besar yang beratnya mencapai 240–270 gram, setara 5–8 kali lipat dari telur ayam biasa. Uniknya, maleo tidak mengerami telurnya seperti burung lain.
Telur maleo dikubur dalam pasir hangat di lokasi bersuhu geothermal antara 32–35 derajat Celsius. Proses inkubasi alami ini berlangsung selama 62–85 hari. Setelah menetas, anak maleo harus berjuang keluar dari dalam tanah seorang diri. Perjuangan berat itu, bisa memakan waktu hingga dua hari. Tak heran, burung ini menjadi simbol ketangguhan bagi masyarakat Pohuwato.
Cagar Alam Panua di wilayah perbatasan Kecamatan Marisa dan Paguat menjadi habitat terbesar maleo di Pulau Sulawesi. Nama “Panua” sendiri diambil dari istilah lokal untuk maleo, menunjukkan betapa pentingnya burung ini dalam kehidupan masyarakat Pohuwato.
Pada era 1970-an hingga 1980-an, populasi maleo di kawasan ini melimpah. Bahkan, burung ini sering terlihat di sekitar jalan Trans Sulawesi yang melintasi Cagar Alam Panua. Desa Maleo, yang berada di Kecamatan Paguat, menjadi saksi sejarah keberadaan burung unik ini.

Kini, patung burung maleo menghiasi beberapa lokasi strategis di Pohuwato, seperti kawasan perkantoran Blok Plan Marisa dan Pantai Pohon Cinta. Ikon ini tak hanya menjadi kebanggaan daerah tetapi juga pengingat akan pentingnya menjaga kelestarian alam.
Namun, populasi burung maleo kini menghadapi ancaman serius akibat aktivitas manusia, seperti perburuan liar dan kerusakan habitat. Pemerintah Kabupaten Pohuwato telah menjadikan maleo sebagai simbol daerah untuk meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap pentingnya pelestarian alam.
Disamping itu, Program edukasi, pengelolaan habitat, dan regulasi menjadi langkah konkret yang terus diupayakan. Maleo membawa pesan penting bahwa melestarikan satwa liar bukan hanya tentang menjaga alam, tetapi juga mempertahankan warisan budaya dan kebanggaan lokal.
Burung maleo adalah pengingat bahwa ketangguhan dan kerja keras diperlukan untuk bertahan. Pohuwato, dengan “Bumi Panua”-nya, memiliki tanggung jawab besar untuk menjaga keberadaan ikon ini sebagai salah satu kekayaan Indonesia yang tak ternilai harganya.

