Penulis Redaksi
Di usia ke-23 tahun, Pohuwato berdiri pada satu titik penting dalam perjalanan sejarahnya, bukan lagi sekadar merayakan pertambahan umur, melainkan menakar kedewasaan sebagai daerah yang lahir dari harapan besar akan keadilan pembangunan dan kesejahteraan rakyat.
Sejak awal pemekaran, Pohuwato dirancang untuk mendekatkan negara kepada warganya, membuka ruang ekonomi baru, dan mengelola kekayaan darat serta laut secara bermartabat. Dalam perjalanannya, banyak yang telah hadir: infrastruktur dasar yang kian membaik, aktivitas ekonomi rakyat yang hidup dari pertanian, perikanan, peternakan, perdagangan, dan pertambangan, serta modal sosial berupa kebersamaan yang tetap terjaga di tengah berbagai dinamika.
Namun kedewasaan juga menuntut kejujuran. Masih ada pekerjaan besar yang harus disempurnakan, terutama dalam membangun kelembagaan ekonomi yang kuat dan berkelanjutan. Pohuwato membutuhkan BUMD yang hadir sebagai penggerak hilirisasi, penyangga pasar, dan penguat nilai tambah hasil pertanian, perikanan, peternakan, dan tambang. BUMDes dan BUMDes Bersama perlu disatukan dalam satu ekosistem ekonomi desa yang terhubung dengan koperasi, UMKM, dan pasar yang pasti, sehingga petani, nelayan, peternak, dan pedagang tidak lagi berjalan sendiri-sendiri. Di sinilah negara dan pemerintah daerah harus hadir sebagai pengarah dan penguat, bukan sekadar regulator.
Persoalan tambang yang kerap memicu konflik sosial dan lingkungan juga harus diletakkan secara jernih dan berkeadilan. Blok Wilayah Pertambangan Rakyat, penataan izin, pengawasan keselamatan dan lingkungan, serta pembagian manfaat yang transparan merupakan jalan tengah agar tambang benar-benar menjadi sumber kesejahteraan, bukan sumber luka. Potensi investasi yang besar, yang nilainya triliun rupiah, harus diarahkan untuk membuka lapangan kerja, memperkuat ekonomi lokal, dan menyiapkan masa depan yang lebih aman bagi generasi berikutnya.
Sebagai daerah pesisir, Pohuwato memiliki panggilan sejarah untuk menumbuhkan ekonomi biru yang bertumpu pada perikanan berkelanjutan, budidaya, industri olahan, dan konektivitas pelabuhan, seiring dengan penguatan ekonomi hijau melalui pertanian unggulan yang ramah lingkungan dan peternakan terintegrasi. Jika kedua arah ini disatukan, Pohuwato bukan hanya menjadi daerah penghasil bahan mentah, tetapi pusat produksi pangan dan ekonomi rakyat yang berdaya saing. Program nasional seperti KopDes Merah Putih dan Makan Bergizi Gratis dapat menjadi jembatan pasar yang pasti bagi hasil produksi desa, sementara arah besar Asta Cita pemerintahan Prabowo Subianto memberi ruang luas bagi Pohuwato untuk memaksimalkan potensi strategisnya, termasuk pengembangan bandara dan pelabuhan sebagai simpul logistik kawasan Teluk Tomini.
Semua capaian dan harapan ini tidak lahir dalam ruang kosong, melainkan bertumbuh dari jejak kepemimpinan yang berkesinambungan, dimulai sejak masa Penjabat Bupati Yahya K. Nasib, dilanjutkan kepemimpinan Bupati pertama Zainudin Hadan bersama Yusuf Giasi, kemudian Syarif Mbuinga dan Amin Haras selama dua periode, dilanjutkan Saipul A. Mbuinga bersama Surarsi Igirisa, hingga kini dipimpin oleh Saipul A. Mbuinga dan Iwan S. Adam. Sejarah ini adalah mata rantai yang saling menyambung, bukan untuk dibandingkan, tetapi untuk dilanjutkan dengan semangat kolaborasi.
Usia Pohuwato 23 Tahun, sebagaimana manusia, adalah fase paling bergelora: masa ketika energi masih penuh, idealisme masih hangat, dan arah hidup mulai ditentukan dengan kesadaran yang matang. Di umur ini, seseorang tidak lagi berjalan dengan sekadar semangat, tetapi mulai menata langkah dengan tanggung jawab; tidak hanya bermimpi, tetapi belajar mewujudkan mimpi menjadi karya nyata. Begitulah Pohuwato hari ini cukup dewasa untuk bercermin pada masa lalu, cukup muda untuk berani melompat ke masa depan. Gelora usia 23 adalah keberanian untuk berubah tanpa kehilangan jati diri, kekuatan untuk tumbuh tanpa melupakan akar, serta keyakinan bahwa dengan kebersamaan, setiap keterbatasan dapat diubah menjadi kemungkinan. Di titik inilah Pohuwato menapaki jalannya: bergerak, berbenah, dan bertumbuh bersama, dengan semangat muda yang terarah dan harapan yang terus menya

