POJOKPLAN.ID, POHUWATO – Di tengah belum tuntasnya polemik penemuan tujuh alat berat jenis excavator yang dipasangi garis polisi di kawasan PETI Dam, publik kembali diguncang oleh munculnya rekaman status media sosial yang diduga melibatkan oknum aparat.
Seorang oknum staf di lingkungan Polres Pohuwato berinisial DA menjadi sorotan setelah beredarnya unggahan story WhatsApp pada 4 April 2026 yang memperlihatkan aktivitas transaksi jual beli emas dengan nilai fantastis, diduga mencapai miliaran rupiah, menggunakan pecahan uang Rp100 ribu dan Rp50 ribu.
Tak hanya itu, dalam unggahan tersebut, yang bersangkutan bahkan secara terbuka mengklaim telah “merusak harga pasar”, pernyataan yang langsung memicu reaksi keras dan spekulasi di tengah masyarakat.
Kegaduhan ini semakin meluas setelah publik mempertanyakan konteks dari aktivitas tersebut, mengingat maraknya praktik pertambangan emas tanpa izin (PETI) di wilayah Pohuwato yang hingga kini belum sepenuhnya tertuntaskan.
Saat dikonfirmasi, oknum tersebut berdalih bahwa unggahan tersebut merupakan bagian dari tugasnya dalam upaya mengungkap jaringan peredaran emas ilegal.
“Saya sengaja memposting itu karena Satintelkam Polres Pohuwato memang sedang gencar mencari gembong penjual dan pembeli emas ilegal,” ungkapnya, (6/4/2026).
Namun, pernyataan tersebut justru memunculkan keraguan publik. Pasalnya, metode yang digunakan dinilai tidak lazim dan berpotensi menimbulkan persepsi negatif terhadap institusi kepolisian.
Sebagaimana diketahui, Polres Pohuwato belakangan ini tengah gencar melakukan penertiban aktivitas tambang ilegal atas atensi Polda Gorontalo. Namun, munculnya kasus ini justru menambah daftar panjang polemik yang belum menemukan kejelasan.
Reaksi keras datang dari kalangan pemuda. Forum Pemuda Gorontalo melalui Fikri Palawa menilai tindakan tersebut tidak mencerminkan profesionalitas aparat penegak hukum.
“Kalaupun itu bagian dari tugas intelijen, seharusnya ada koordinasi internal agar tidak menimbulkan kegaduhan. Apa yang terlihat justru sebaliknya, dan berpotensi menimbulkan dugaan adanya keterlibatan secara nyata,” tegasnya.
Ia juga menyoroti dampak luas dari kejadian ini terhadap kepercayaan publik terhadap Polres Pohuwato.
“Rentetan persoalan PETI yang masih menggantung saja sudah membuat masyarakat kehilangan kepercayaan. Ditambah lagi dengan kasus ini, wajar jika publik mulai mempertanyakan integritas aparat. Jangan salahkan masyarakat jika menilai ini sebagai potret buruk penegakan hukum di Pohuwato,” pungkasnya.
Kasus ini kini menjadi perhatian publik luas. Masyarakat menanti langkah tegas dan transparan dari pihak kepolisian untuk menjawab berbagai spekulasi yang berkembang, sekaligus memastikan bahwa penegakan hukum berjalan tanpa tebang pilih. (m)

